Pentingnya Mengetahui, Memahami dan Melaksanakan Standar dan Persyaratan Lingkungan Kerja di Tempat Kerja

Salah satu agenda prioritas dari NAWACITA bidang kesehatan pemerintah saat ini adalah Program Indonesia Sehatdengan 3 (tiga) pilar yakni 1) Paradigma Sehat; 2) Penguatan Pelayanan Kesehatan; 3) Jaminan Kesehatan Nasional. Pilar Paradigma Sehat yakni bagaimana membuat yang sehat makin sehat dan tidak menjadi sakit.

Sektor industri merupakan sektor yang besar dan memiliki tenaga kerja yang banyak,serta memiliki sistem Kesehatan Kerja yang terstruktur dimana perlu menciptakan suasana dan lingkungan kerja yang sehat.

Proporsi usia kerja yang terus meningkat merupakan tantangan sekaligus peluang.Puncak bonus demografidi Indonesia diperkirakanpada tahun 2025 dengan mayoritas penduduk adalah usia produktif.Untuk itu,kualitas generasi di masa tersebut akan menentukan peluang Indonesia menjadi negara maju.Perbaikan upaya kesehatan kerja menjadi penting untuk menciptakan SDM yang berkualitas agar bonus demografi dapat dimanfaatkan secara optimal. Menurut data survey angkatan kerja nasional, saat ini di Indonesia, terdapat 128,5 juta orang yang bekerja (Sakerkesnas) 2015. Tantangan proporsi pekerja yang besar adalahpotensi kasus Penyakit Akibat Kerja (PAK) dan Kecelakaan Akibat Kerja (KAK) yang tinggi.

 

Potensi masalah kesehatan pada pekerja tidak hanya terbatas pada masalah kesehatan yang spesifik, seperti kasus kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja, tetapi masalah penyakit menular dan penyakit tidak menular juga merupakan kondisi kesehatan yang sangat dipengaruhi oleh perilaku di tempat kerja dan lingkungan kerja.Peneliti dari, WHO menyatakan bahwa :

bahaya di tempat kerja merupakan penyebab atau memberikan kontribusi besar bagi kematian dini

faktor lingkungan, proses, cara kerja, bahan baku dan produk merupakan potensi bahaya timbulnya  penyakit akibat kerjadan penyakit lainnya pada pekerja.

 

Lembaga Buruh International atau ILO (International Labour Organization2012) menyebutkan bahwaterdapat lebih 2 juta kasus kematian tiap tahunnya dikarenakan kecelakaan dan penyakit akibat kerja dan 300.000 orang meninggal dari 250 juta kecelakaan dan sisanya adalah kematian karena penyakit akibat hubungan kerja. ILO (2013) mencatat bahwa setiap 15 detik seorang pekerja meninggal dunia karena kecelakaan kerja serta sebanyak 160 pekerja mengalami sakit akibat kerja.

Dalam konsep sehat sakit, lingkungan sangat berpengaruh terhadap timbulnya gangguan kesehatan selain faktor-faktor lainnya. Lingkungan kerja yang sehat tentunya akan menciptakan kondisi yang aman dan sehat pada pekerja. Namun sayangnya masih banyak lingkungan kerja yang belum sesuai standar kesehatan, sehingga sangat berdampak buruk pada kesehatan pekerja. Sebagaimana diketahui bahwaberbagai faktor risiko pada pekerja  yang disebabkan karena lingkungan kerja seperti adanya bahaya karena faktor fisik, kimia, biologi, psikososial dan ergonomi.

 

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa penggunaan bahan kimia di lingkungan kerja seperti pestisida telah mengakibatkan berbagai gangguan kesehatan seperti meningkatnya angka abortus 1.6 kali diantara pekerja pertanian (Hanifa, dkk);Diketahui juga bahwa terdapat hubungan signifikan antara insiden stunting dengan riwayat paparan pestisida (R.P.Utama, dkk). Hasil penelitian tentang bahan kimia terkait mercury, telah dilakukan kajian oleh Kementerian Kesehatan RI pada Pekerja di Pertambangan Emas Skala Kecil (PESK) tahun 2016 dan diketahui bahwa 23,4% sampel pekerja telah melebihi Nilai Ambang Batas merkuri dalam biomarker yang dapat berisiko timbulnya gangguan penyakit susunan syaraf pusat, gangguan ginjal dan pertumbuhan.

 

Selain permasalahan penggunaan bahan kimia tersebut,bahaya pajanan biologi di lingkungan kerja dapat terjadi dengan adanya penularan penyakit dari hewan ke manusia seperti penyakit antraks dan flu burung, pada petugas kesehatan adanya penularan Hepatitis B dan penyakit lainnya, salah satu hasil penelitian menunjukan bahwa  tingkat kepatuhan petugas menerapkan standar prosedur tahapan kewaspadaan universal dengan benar hanya 18,3%, dengan status vaksinasi Hepatitis B pada petugas Puskesmas masih rendah yaitu 12,5%, dan riwayat tertusuk jarum bekas 84,2% (Sri Hudoyo, 2004).

 

Bahaya pajanan faktor fisik pada lingkungan kerja dapat disebabkan karena kebisingan, pencahayaan, suhu, kelembaban dan radiasi yang melebihi Nilai Ambang Batas. Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar tahun 2013 terhadap pekerja menyebutkan bahwa sebanyak 11,0% pekerja mengalami gangguan pendengaran dan sebanyak 11,9% pekerja mengalami gangguan otot dan tulang rangka akibat pajanan ergonomi.

 

Pendekatan Kesehatan Kerja secara holistik sangat diperlukan dalam mengatasi berbagai masalah kesehatan pada pekerja yang tidak hanya terbatas pada masalah kesehatan yang spesifik,seperti kasus kecelakaan kerjadanpenyakit akibat kerjajuga penyakit menular dan penyakit tidak menular pada pekerja yang sangat dipengaruhi oleh perilaku di tempat kerja dan lingkungan kerja.Sebuah cara pandang baru dalam kesehatan kerja yang holistik, yaitu “Healthy Workplace Model” yang mengabungkan:

•      Kesehatan pekerja: Minimalisasi pajanan pekerja terhadap risiko bahaya fisik, kimia, biologi dan psikososial;

•      Promosi kesehatan: Mempromosikan perilaku sehat pada pekerja, baik terkait pekerjaan maupun gaya hidup

•      Keterlibatan perusahaan di masyarakat, Mengidentifikasi lebih luas mengenai faktor sosial dan lingkungan yang mempengaruhi kesehatan pekerja

 

Standar dan Persyaratan Kesehatan Lingkungan Kerja perlu diketahui sebagai salah satu upaya peningkatan kualitas kesehatan lingkungan kerja selain itu perlu adanya informasi terbaru dalam rangka menyesuaikan perkembangan ilmu dan teknologi dengan harapan kualitas lingkungan kerja industri tetap sehat dan sekaligus menciptakan kualitas pekerja sehat, produktif dan berdaya saing.

 

Standar dan Persyaratan Kesehatan Lingkungan Kerja Industri, diharapkan dapat 1) Mewujudkan kualitas lingkungan kerja industri yang sehat dalam rangka menciptakan pekerja yang sehat dan produktif2) Mencegah timbulnya gangguan kesehatan, penyakit akibat kerja, dan kecelakaan kerja; dan3) mencegah timbulnya pencemaran lingkungan akibat kegiatan industri.

 

 



 

Unit Kerja

Social Media

Link Terkait

Jumlah Pengunjung

.